September Will be Ended

Sejatinya tidak ada dzat yang paling adil selain Allah yang Maha Adil (Al-‘Adlu). Lantas keadilan macam apa lagi yang ingin kamu tuntut pada Tuhan mu, ketika Dia sudah Adil pada setiap langkah yang kamu tuju. Jangan karena nasibmu tidak mujur lantas memvonis kalau Tuhan itu tidak Adil. Jika pernah berfikir demikian berarti kamu harus belajar membedakan nasib dengan takdir, karena masih banyak yang beranggapan kalau nasib itu sama dengan takdir. Padahal tidak demikian nasibmu tergantung cara berpikirmu, tergantung tindakanmu dan tergantung sikapmu, sedangkan takdir itu sudah digariskan oleh Tuhan sejak sebelum kita lahir dan berpijak di dunia ini.

Bulan september memang terkenal dengan slogan september ceria, tapi untuk september tahun kemarin rasanya itu september sedih, karena tidak ada keceriaan yang terpancar disana, cerianya lagi ngumpet dibalik tirai, yang ada adalah prasangka buruk, mencari kambing hitam, siapa menyalahkan siapa. Dan juga ada yang main petak umpet bak lempar batu sembunyi tangan yang ujung-ujungnya seperti udang dibalik tepung.

Tapi banyak hikmah yang bisa dipetik dari kejadian itu, paling tidak aku bisa beranggapan orang yang ngomongnnya baik belum tentu hatinya baik, dan dari kejadian itu juga aku bisa dituntut untuk mengambil keputusan dalam sehari. But, apa boleh buat semua sudah berlalu, kini aku percaya apa yang telah ku lalui membuahkan banyak pelajaran yang tak ternilai dan berharga membuatku bertumbuh semakin dewasa. So.. lupakan, biarkan jadi kenangan.

Seperti yang aku bilang Allah itu Al-‘Adlu, Ia Tahu jika tahun kemarin september sedih maka tahun ini ceria kembali menampakkan diri, dan kembali menjadi september ceria. Ceria itu identik dengan bahagia, sedangkan bahagia itu sederhana, sesederhana hembusan angin yang tak terlihat namun sejuknya terasa sampai di benak pikiran sadar kita.

Tahun ini satu list dari beberapa list yang tertulis di catatan kamar itu lepas. Yaitu eksplor Jogja, meskipun tak semua ter-eksplore paling tidak tahun ini untuk kesekian kalinya aku menginjakkan kaki di kota Gudeg ini setelah acara Blogger Nusantara beberapa tahun yang lalu. Walau sebenarnya acara ini hanyalah sambil menyelam minum air, karena acara intinya bukan untuk wisata, melainkan belajar dengan estimasi waktu yang lumayan lama. Tapi apa boleh buat , rasanya tidak lengkap kalau tidak sekalian mencari tahu tentang keindahan kota ini. Selain itu masih ada beberapa hal yang membuat September ini semakin ceria, sehingga membuatku beranggapan jika Tuhan itu Maha Adil.

Nah, kejadian bahagia dan kejadian sedih itu masuk nasib apa masuk takdir ya??

Hanya berharap ceria itu selalu ada dalam setiap langkah ini, September Will Be Ended semoga ceria akan tetap ceria selamanya, layaknya mentari yang pergi untuk kembali.

 

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.