Warna mencolok vs motif berani itulah batik Madura

Walaupun tidak berlabel seperti batik pada umumnya  seperti batik Pekalongan dan batik Solo, walaupun tak se-etnik kota Jogja yang terkenal dengan batik yang harganya murah meriah di sepanjang Malioboro, tapi pulau kecil yang terkenal dengan watak manusia yang keras dan terkenal dengan sebutan pulau garam ini memiliki batik yang kualitasnya tidak kalah dengan batik dari ketiga kota diatas. Madura yang memiliki 4 kabupaten yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep ini sebenarnya mempunyai pengrajin batik dengan ciri khasnya. Tetapi yang paling intensif dalam pemasaran, dan juga jumlah pengrajin yang cukup banyak ada di dua kabupaten yaitu Bangkalan dan Pamekasan.

Dan, setiap kabupaten mempunyai ciri khas masing-masing. Secara sekilas, batik Bangkalan lebih berwarna gelap dengan pewarnaan alami, desainnya pun cenderung konservatif dan klasik seperti desain lama, corak lebih kasar tetapi detail dan penuh, sedangkan untuk batik Pamekasan, lebih berani memilih warna-warna yang keluar dari ‘pakem’ seperti orange, hijau menyala, ungu, kuning dan warna lainnya. Untuk desain, batik Pamekasan lebih berani dan bervariasi dan desainnya pun sangat beragam. Pada batik Pamekasan, biasanya juga diisi dengan ‘serat kayu’ atau istilahnya mo’ ramo’ (akar-akaran) pada bagian yang kosong dan motif ini yang biasanya banyak disukai konsumen termasuk saya.


Note:  Gambar kiri = batik Bangkalan (Tanjung Bumi) dan gambar kanan = batik Pamekasan

Jika dibandingkan dengan batik lainnya di nusantara, batik Madura akan kelihatan berbeda. Batik Madura sangat berani dalam warna, kontras dan beradu antar warna, desain tidak monoton dan asimetris, penggambaran desain juga naif dan tidak halus, namun hal seperti itulah yang pada saat ini ramai diburu sehingga tidak mustahil kalau pada saat ini batik Madura banyak peminatnya.

Harga untuk batik Madura sangat bervariasi, mulai dari murah puluhan ribu sampai jutaan, tergantung dari kerumitan desain dan teknik pembatikannya (kalau bahan dapat dipastikan, batik mahal akan memakai bahan yang baik tentunya). Survei ke beberapa tempat penjualan di Bangkalan dan Pamekasan.

Batik yang mahal dengan harga jutaan biasanya juga membutuhkan waktu yang lama dalam pembuatannya, memakai pewarna yang alami (seperti saga dan mengkudu), dibatik dengan 2 kali proses pembatikan untuk luar dan dalam (sehingga tidak ada luar dalam) dan ditempat tertentu seperti Tanjung Bumi Bangkalan, dilakukan perendaman dalam gentong untuk membuat warna lebih awet dan semakin ‘muncul’ apabila dicuci. Teknik gentongan ada di Tanjung Bumi Bangkalan, dan dikenal dengan batik gentongan.

Proses membatik cenderung berbeda antara satu tempat dengan tempat lain yang saya kunjungi. Saat menorehkan malam di atasnya, para perajin tidak menggunakan canting. Mereka menggunakan tangkai kayu yang di ujungnya dililit dengan kapas, mirip cotton bud. Alat itu disebut Les Biles.

Tidak semua batik Madura itu batik tulis tetapi juga ada bati Cap atau bahasa kerennya batik Printing, jadi jangan sampai keliru dalam memilihnya ada beberapa cara untuk membedakan batik tulis dan batik Cap.

Untuk membedakan batik tulis dengan batik cap-tulis, bagi yang teliti bisa dilihat dari coraknya, batik cap pasti ada sambungan, dan batik cap juga monoton dan simetris. Batik cap biasanya sudah ada jahitan pada tepian kainnya, sedangkan untuk batik yang murni tulis, tidak ada jahitan pada tepi kainnya.

Share

7 thoughts on “Warna mencolok vs motif berani itulah batik Madura

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *