cace

Imut-Imut tapi pedas itulah Cabe

Bicara soal cabai atau lebih familiar cabe akan langsung terbesit dalam pikiran kita rasanya yang pedas. Namun dibalik rasanya yang demikian banyak sekali orang yang ketagihan bahkan tidak mau makan kalau tanpa cabe.

Lalu apakah kita pernah bertanya apa yang membuat rasa cabai itu pedas dan panas di lidah saat kita mengkonsumsinya??

Sebelum bebicara jauh tentang kepedasan cabai alangkah baiknya jika mengenal asal usul cabe itu. Cabe atau cabai atau chili (bahasa Ambon) adalah buah dan tumbuhan anggota genus Capsicum. Buahnya dapat di golongkan sebagai sayuran maupun bumbu, tergantung bagaimana digunakan. Sebagai bumbu, buah cabai yang pedas sangat populer di Asia Tenggara sebagai penguat rasa makanan. Bagi seni masakan Padang, cabai bahkan dianggap sebagai “bahan makanan pokok” ke sepuluh (alih-alih sembilan). Sangat sulit bagi masakan Padang dibuat tanpa cabai.

Hmm… Kecil tapi pedas, kenapa ya??

cabee

Coba deh diperhatikan!!!.. jika cabai dibelah, maka didalamnya akan kita temukan plasenta (berupa bunga karang berwarna putih, penghubung antar biji cabai) yang mengandung zat capsaicin. Capsaicin  inilah yang menimbulkan sensasi terbakar dan nyeri pada lidah. Capsaicin ini seperti minyak dan menyengat sel- sel pengecap lidah.

atom

Melihat  sekelompok rangkaian nama Atom kimia diatas jadi seperti mengingat kembali pelajaran kimia, Nama kimia capsaicin adalah (E)-N-(4 hidroksi-3-rretoksiphenilmetil) 8-metil-6-none amida; trans-8 meti-N-Vinilil-6-noneamida; N(4 hidroksi-3-metoksi benzil)-8-metil none –trans-6-amida; C18H 27 NO 3.

Jadi rasa pedas itu muncul karena capsaisin menciptakan isyarat yang sama bagi otak seperti saat kulit terkena panas. Berbeda dengan panas, rasa panas dari lidah ini hanya “rasa”, bukan terbakar sesungguhnya. Sensasi rasa nyeri dan terbakar (pedas) dari capsaicin timbul akibat efek iritatif. Hal ini terjadi setelah interaksi dengan neuron sensorik. Capsaicin merupakan salah satu senyawa grup fungsional vanilloid, sehingga senyawa ini berikatan dengan reseptor VR1 (Vanilloid Receptor Subtype1). VR1 adalah ion channel receptor, yang apabila teraktivasi akan menginduksi masuknya kation kedalam sel. Kation ini bila telah mencapai nilai ambang akan menimbulkan depolarisasi sehingga terbentuklah impuls menuju ke otak. Efek ini sama dengan efek iritatif yang ditumbulkan oleh panas maupun trauma. Tetapi capsaicin tidak memberikan trauma pada jaringan secara langsung pada dosis rendah.

Efek iritatif capsaicin tidak hanya berlangsung di mulut dan lidah, tetapi dapat sampai hingga lambung dan usus. Pada beberapa orang yang peka, hal ini akan menyebabkan lambung teriritasi hingga sekresi getah lambung meningkat dan gerak peristaltic saluran pencernaan juga meningkat. Akibatnya orang tersebut akan mencret. Capsaicin dosis tinggi dapat menyebabkan gastro-esophageal reflux, dan menurut beberapa penelitian (walaupun masih diperdebatkan) dapat menyebabkan kanker lambung.

Hohoho…  Sambil ngunyah sambel pedas,, saya memang bukan orang yang suka banget dengan cabe tapi Cuma kadang menikmati saja asal tidak terlalu banyak.  Hanya sekedar saran lebih baik kurangi deh konsumsi cabenya. Udah tau cabe itu pedas ngapain pula masih di konsumsi.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *