Mengejar Sunset di Puncak Becici

Sinar mentari tak sabar untuk kembali ke peraduannya, mengiringi langkah kaki kami menuju suatu puncak yang letaknya lebih tinggi dari dataran lainnya. Hamparan luas hanya bermodal pembatas kayu tanpa adanya penghalang yang kokoh kami bertatih-tatih demi menyaksikan pergantian mentari menuju senja dan membiarkan senja menjemput malam. Disini kami bisa menyaksikan panorama senja yang sangat memikat hati, walau waktu itu ada awan hitam yang sedikit menghalangi mentari sore.

Puncak Becici merupakan hutan pinus yang menurutku suasananya membuat penikmatnya nyaman dan betah, karena benar seperti dalam budaya Korea hutan pinus melambangkan cinta abadi atau bahasa kerennya lebih dikenal dengan kata Everlasting Love. Pohon-pohonnya tumbuh subur menjulang tinggi melambangkan cinta sejati yang tidak bercabang-cabang, lurus, kokoh dan saat ada angin bertiup ia selalu mengeluarkan irama khas yang membuat penikmatnya terpukau. Oleh karena itu tidak heran kalau banyak film Korea seperti Winter Sonata menjadikan pohon pinus sebagai symbol kisah mereka, karena dari ini bisa belajar dan berkisah tentang filosofi cinta ala pohon pinus.

Di Yogyakarta banyak sekali wisata pohon pinus yang bisa kita temui, namun pada kesempatan kemarin karena keterbatasan waktu aku hanya berkunjung ke dua tempat pinus yang sangat indah, yag pertama hutan pinus Pengger dan hutan pinus di Puncak Becici. Keduanya sangat indah dan mampu memikat hati, apalagi saat menikmati suasana di tempat ini, karena cuaca diluar sangat panas. Hitung-hitung ngadem menikmati alam tanpa harus masuk ruangan ber AC.

Puncak Becici ini merupakan hutan pinus yang biasanya dikenal juga dengan sebutan Hutan Sudimoro I atau ada juga yang menyebutnya Becici Asri, ini adalah hutan pinus lindung yang kelola oleh RPH Mangunan. Tempat ini terletak di dusun Gunung Cilik, Desa Muntuk, Kecamatan Dlingo, Bantul. Untuk menuju ketempat ini selama perjalanan mata ini selalu disuguhkan dengan pemandangan yang sangat indah. Pepohonan yang rapat dengan desiran angin yang mampu menggoyangkan ranting pohon mampu membuatku betah. Bahkan kaki yang lelah karena berlari ini seakan tidak terasa, apalagi ada beberapa destinasi wisata yang sengaja dibuat diantara pepohonan. Serta tak jarang ada beberapa kursi panjang yang terbuat dari kayu bisa digunakan untuk istirahat.

Puncak Becici memang menawarkan lenskap yang sangat indah, walau tidak sampai ke gardu pandang tapi suasana sendu senja tetap terasa, goresan lukisan langit yang cukup membuat penikmatnya betah. Detik-detik tenggelamnya surya juga mulai aku nikmati. Disini senja selalu mengajarkan kita untuk pulang, tak peduli betapa jauhnya kita terbang, senja juga mengajarkan kita ikhlas karena harus pergi karena malam telah datang, dan senja selalu mengajarkan kita hidup memberi makna, meski hadirnya hanya sejenak.

Hmm… Membahas tentang keindahan senja memang tidak ada habisnya, walaupun untuk mencapai tempat ini penuh dengan perjuangan, berlari menyusuri pepohonan pinus, melawan dinginnya udara hutan yang menusuk tulang, meninggalkan rasa lapar walau bau nikmat makanan dari gardu-gardu penjual makanan mulai semerbak mewangi bahkan pulangnya rela berjalan di kegelapan malam karena langit senja sudah berubah menjadi gulita.

Tapi yang bikin betah ditempat ini fasilitas lengkap, ada kamar mandi yang lengkap dengan musollahnya. Sehingga walau kemalaman karena terlalu bersemangat menikmati senja, kita tetap bisa shalat maghrib. So sambil jalan-jalan ibadahpun tetap lancar.

Share

4 thoughts on “Mengejar Sunset di Puncak Becici

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.