November Rain VS November Tuntas

“Pekerja sosial itu harus tangguh, gak boleh lemah, karena hidup itu penuh dengan tantangan” begitu ujar mereka.

Meski belum pernah rilis, aku sudah hampir tiga tahun menggeluti dunia sosial yang sebenarnya, tepatnya semenjak bergabung dengan program dari kementerian sosial. Mulai dari aku tidak lancar berbahasa Madura halus, sampai saat ini lumayan lancar walau kadang ketelisut. Banyak tawa yang sudah tercipta dari sekian banyak penerima bantuan sosial ini, namun disisi lain banyak juga duka karena kesenjangan dari mereka yang belum jadi penerima bantuan.

Tapi apa mau di kata, kita selalu berusaha membesarkan hati mereka yang belum menerima bantuan dengan kata-kata lembut, tentunya yang tidak menjanjikan untuk mendapatkan, tapi paling tidak dapat meredam gemuruh suasana hatinya.

Bulan November biasanya dikenal dengan November Rain, yang dipenuhi dengan lagu-lagu sendu pengantar rindu. Tapi untuk November kali ini terasa berbeda, tak hanya November rain yang kita rasakan tapi juga November tuntas, November tuntas merupakan inisiatif pemerintah untuk mengentas kemiskinan dengan penambahan KPM (Keluarga Penerima Manfaat) baru dari PKH (Program Keluarga Harapan).

Banyak kegiatan yang di lakukan pendamping PKH untuk turut mensukseskan November tuntas, salah satunya adalah validasi penambahan KPM, entri data yang berbasis android dan hal sudah biasa pula yaitu deadline.

“Kalau tidak saling kejar-kejaran dengan deadline itu bukan PKH” itu salah satu perkataan dari operator kami.

Hujan kehujanan, panas kepanasan, jalanan berlumpur, jembatan bambu yang dibawahnya aliran sungai deras yang mungkin kalau jatuh keselamatan kita masih dipertanyakan, semuanya kita terjang demi terselesaikannya proses validasi data, Saat-saat validasi seperti ini pendamping PKH tak ubahnya seperti Ninja Hattori, karena perjalanannya melewati lembah mendaki bukit walau kita tak melewati laut.

Bahkan tak jarang kita kelaparan ditengah perjalanan karena sulitnya akses warung di sekitar lokasi validasi. Dan yang paling menyedihkan lagi ketika kita berangkat dari rumah dengan sepatu bersih dan rapi, tapi ketika sampai di tengah jalan dengan amat sangat terpaksa harus nyebur ke dalam lumpur, karena tidak ada lagi jalan akses selain jalan tersebut, semacam pilihan yang sangat berat. Tanah cinta (read : tanah lempung)  yang bercampur air melekat di sepatu menjadi saksi kalau kita lewat jalan tersebut.

Namun semua itu terbayar ketika sampai lokasi validasi banyak senyum yang penuh harapan dari semua calon KPM, sapaan lembut dari pada ibu-ibu dan mbah-mbah, dan juga tak jarang mereka juga mendoakan keselamatan kita. Tapi pemahaman orang awam di desa itu juga kadang membuat kita gemes, walaupun aku juga orang desa, hehehe..

SDM yang kurang kadang menjadi kendala ketika sosialisasi dan validasi, walau kita sudah berusaha sosialisasi dengan bahasa ibu alias bahasa mereka. Bahkan kadang ada yang tidak dapat membedakan mana KK (Kartu Keluarga ) dan mana KTP (Kartu Tanda Penduduk). Sehingga hal seperti ini yang memperlambat proses validasi dan harus kulaan sabar, walau dijadwalkan sehari selesai kadang sampai dua hari, dan kadang juga sampai malam hari masih mengadakan validasi di desa, sesuai dengan dengan semboyannya “Pantang Pulang Sebelum Tuntas”

Tak berhenti sampai di desa saja, tapi masih ada seabrek data yang harus di entri. Pengentrian bisa dikatakan kekinian karena sudah berbasis Android hal ini sebagai bukti dari dalih “Pendamping Gak Boleh Gaptek”, walau mungkin masih terus dilakukan maintenance karena menurutku masih ada beberapa bug didalamnya. Maklum developer juga manusia yang juga dikejar dengan garis mati. Entri data dengan melototin HP pintar berlayar 5,1 Inch membuat mata mahal ini menjadi berair, bahkan kadang sampai mati gaya. Estimasi entri data satu KPM 5 Menit membuatku mangut-mangut di depan layar. Jika boleh memilih aku memilih entri menggunakan laptop saja hehehe..

But…  Apa boleh buat, waktu yang diberikan hanya satu minggu harus selesai semua sampai proses entri data. Dan disinilah kita dituntut harus bisa management waktu agar semua terselesaikan dengan baik. Memang kalau terlalu dipikirkan semua akan sulit, kadang juga berpikir mustahil untuk selesai tapi ternyata berkat usaha dan doa semua beres tuntas tepat sesuai deadline di tanggal 20 November 201 jam 23.59 WIB. Bahkan sebagai pengingat pagi-pagi bak alarm OP udah post di grup kalau sekarang deadline terakhir.
Sebagaimana kata Evelyn Underhill “ Sesuatu yang belum dikerjakan sering kali Nampak mustahil, kita baru yakin kalau kita sudah melakukannya dengan baik.”

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.